Ringkasan: Piala Dunia 2026 menjadi saksi bagaimana tim-tim kecil mampu merepotkan raksasa. BBC Sport mengidentifikasi tiga pola taktis yang membedakan tim underdog yang sukses dari yang gagal. Artikel ini mengupas kegagalan Arab Saudi dan Swedia sebagai pelajaran berharga.

Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim telah membuka panggung bagi negara-negara kecil untuk menunjukkan kemampuan mereka. Namun, tidak semua tim underdog berhasil. Analisis BBC Sport mengungkap bahwa ada perbedaan mendasar antara tim yang sukses menahan raksasa dan tim yang justru dihancurkan. Arab Saudi dan Swedia menjadi contoh kegagalan yang memberikan pelajaran berharga.
Arab Saudi menggunakan formasi 5-4-1 saat melawan Spanyol. Secara teori, lima bek seharusnya membuat pertahanan lebih kokoh. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Masalah utamanya adalah kurangnya kejelasan peran. Lini tengah Arab Saudi yang terdiri dari empat pemain terlalu bergerak ke sisi bola, meninggalkan ruang kosong di sisi lain. Spanyol dengan cepat memanfaatkan ini dengan mengalihkan bola dari kiri ke kanan. Lamine Yamal dan Pedro Porro mendapati diri mereka dalam situasi dua lawan satu melawan bek sayap Arab Saudi. Overload ini menghasilkan gol ketiga Spanyol melalui Mikel Oyarzabal.
Swedia mengalami nasib lebih buruk. Dengan formasi 5-3-2, mereka hanya memiliki tiga gelandang — lebih sedikit dari Arab Saudi. Saat melawan Belanda yang berada di peringkat 8 dunia, kekurangan ini menjadi fatal. Tiga gelandang Swedia tidak mampu menutup lebar lapangan. Belanda menggunakan pemain sayap kanan untuk mengunci bek kiri Swedia, sementara Denzel Dumfries dari posisi lebih dalam melakukan lari tanpa pengawalan. Hasilnya: Swedia kebobolan lima gol. Mereka baru membaik setelah beralih ke formasi 4-5-1 di babak kedua.
Sebaliknya, Cape Verde dan Ghana menunjukkan bagaimana seharusnya tim underdog bertahan. Keduanya menggunakan formasi 4-5-1 dengan dua lini yang rapat. Kuncinya adalah disiplin untuk tidak terpancing. Saat lawan menarik bola ke belakang untuk membuka ruang, Cape Verde dan Ghana tidak mengikuti. Mereka tetap kompak, memaksa lawan mencari solusi di sekitar atau di atas blok pertahanan.
Dari sisi serangan, Afrika Selatan memberikan contoh bagaimana tim kecil bisa mengancam. Dengan hanya 31% penguasaan bola, mereka melepaskan 14 tembakan. Strateginya adalah membangun serangan dari bawah dengan operan pendek, menarik tekanan lawan, lalu mengirim bola panjang ke ruang kosong. Pendekatan ini berisiko tinggi — Afrika Selatan kebobolan dari situasi serupa saat melawan Meksiko — tetapi ketika berhasil, hasilnya sepadan.
Pelajaran utamanya: formasi lima bek bukan jaminan. Yang lebih penting adalah disiplin posisi, cakupan lebar lapangan, dan keberanian membangun serangan. Tim underdog yang menguasai tiga elemen ini — seperti Cape Verde dan Ghana — memiliki peluang nyata untuk mengejutkan dunia.
Saran Link Internal: Kesalahan Taktik Arab Saudi vs Spanyol | Swedia vs Belanda: Pelajaran Berharga | Strategi Serangan Afrika Selatan
Komentar
Posting Komentar